Menjaga NU Setelah Kontestasi Catatan Alumni Tebuireng - NugoMedia -->

Kamis, 03 September 2026

Menjaga NU Setelah Kontestasi Catatan Alumni Tebuireng

Menjaga NU Setelah Kontestasi Catatan Alumni Tebuireng

Setiap kontestasi selalu melahirkan dua sisi, ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, setelah hasil ditetapkan, argumentasi pihak yang kalah sering diposisikan seolah-olah sebagai kebenaran yang sedang dizalimi. Sementara pihak yang menang terkadang dipandang seolah-olah menjadi pemilik tunggal kebenaran.

Sebagai santri dan alumni Tebuireng, saya memandang persoalan ini tidak semata-mata sebagai persoalan menang dan kalah. Jika kita meyakini bahwa setiap hasil merupakan bagian dari ketentuan dan restu Tuhan, maka hasil tersebut juga harus kita terima sebagai sebuah ujian.

Yang menang diuji apakah mampu menggunakan kemenangan dengan bijaksana. Yang kalah diuji apakah mampu menerima hasil tanpa kehilangan sikap kritis dan tetap menjaga persatuan.

Karena itu, saya masih menunggu hasil formatur dan susunan kepengurusan selanjutnya. Di sanalah arah perjalanan organisasi akan semakin terlihat.

Jika kemudian posisi strategis tertentu kembali diisi oleh figur yang sama untuk kedus kalinya, tentu hal tersebut layak menjadi bahan renungan bersama. Bukan untuk menyerang pribadi, tetapi untuk mempertanyakan bagaimana regenerasi, keseimbangan, dan kepentingan organisasi ditempatkan.

Tebuireng dan Tantangan Menjaga Independensi

Sebagai alumni Tebuireng, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kegelisahan ini. Tebuireng bukan sekadar tempat seseorang pernah belajar. Tebuireng memiliki tradisi keilmuan, perjuangan, kemandirian, dan sikap kritis yang diwariskan para masyayikh. Karena itu, kepemimpinan NU ke depan harus mampu menjaga nilai-nilai tersebut.

Gus Kikin sebagai ketua tentu memiliki tanggung jawab besar. Kepemimpinannya tidak cukup hanya mampu meredam berbagai persoalan internal, tetapi juga harus mampu memastikan NU tetap memiliki sikap yang mandiri dalam menghadapi berbagai kepentingan eksternal, termasuk pemerintah.

Menurut saya, Gus Kikin tidak boleh sekadar menjadi peredam opini-opini negatif yang berkembang. Justru kepemimpinannya harus mampu menunjukkan bahwa NU mempunyai kemandirian sikap dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran, siapa pun yang menjadi pihak yang harus dikritik.


Sebab, satu hal yang harus terus kita garis bawahi, NU bukan partai politik. NU adalah organisasi keagamaan dan sosial yang memiliki sejarah panjang. Karena itu, jangan sampai NU kehilangan independensinya hanya karena kepentingan politik sesaat.

Jika kemudian posisi strategis tertentu kembali diisi oleh figur yang sama untuk ketiga kalinya, tentu hal tersebut layak menjadi bahan renungan bersama. Bukan untuk mengurangi pribadi, tetapi untuk mempertanyakan bagaimana regenerasi, keseimbangan, dan kepentingan organisasi ditempatkan.

Alumni Tebuireng Harus Hadir, Bukan Hanya Berkomentar

Sebagai alumni Tebuireng, saya juga merasa bahwa tanggung jawab kita tidak berhenti pada kritik dan komentar di ruang publik. Jika kita menginginkan NU menjadi kuat, maka alumni Tebuireng juga harus hadir dan ikut mengambil bagian dalam perjalanan organisasi.

Bagi alumni yang belum masuk dalam struktur kepengurusan NU, mari berkhidmat sesuai kapasitas masing-masing baik di tingkat Ranting, MWC, PC, PW maupun PB. Tidak semua harus menjadi pengurus di posisi strategis. Tidak semua harus menjadi tokoh. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk bekerja, berkhidmat, dan memberikan kontribusi nyata.

Menurut saya, inilah salah satu bentuk nyata alumni Tebuireng dalam membantu Gus Kikin. Kita sangga Gus Kikin dari bawah agar pondasi kepemimpinannya kuat. Namun, menyangga bukan berarti mengkultuskan. Mendukung bukan berarti kehilangan sikap kritis.

Sebagai alumni Tebuireng, kita justru harus menjadi bagian dari kekuatan yang membantu, mengingatkan, memberikan masukan, dan ikut menjaga arah organisasi ketika diperlukan.

Persatuan NU Lebih Besar daripada Kontestasi

Pada akhirnya, saya ingin mengajak seluruh warga NU, khususnya sesama santri dan alumni Tebuireng, untuk tidak membiarkan kontestasi menjadi alasan terjadinya perpecahan.

Yang kalah jangan merasa seluruh kebenaran ada di tangannya. Yang menang jangan merasa seluruh kebenaran menjadi miliknya. Keduanya harus kembali kepada satu kepentingan yang lebih besar: menjaga NU.

Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan. Kita boleh kritis terhadap keputusan organisasi. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan adab, ukhuwah, dan kecintaan kepada NU.

Sebagai santri dan alumni Tebuireng, saya, memilih untuk mengambil posisi sebagai bagian dari warga NU yang ingin menjaga persatuan sekaligus tetap kritis. Karena bagi saya, membela NU tidak selalu berarti membenarkan semua keputusan. Terkadang, menjaga NU justru berarti berani mengingatkan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Kontestasi boleh selesai. Perbedaan boleh tetap ada. Tetapi khidmah harus terus berjalan.

Mari alumni Tebuireng hadir, ikut berkhidmat, memperkuat NU dari bawah, dan bersama-sama menjaga NU tetap utuh, mandiri, bermartabat, serta tidak kehilangan jati dirinya.

Penulis : Irman Abdurachman

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 NugoMedia | All Right Reserved